Buddhism and Wisdom

Oleh : Keirynn Kanaya Chiang – 9C


            Agama Buddha bermula dari kehidupan Siddhartha Gautama yang mencapai pencerahan dan menjadi Buddha. Ajaran Buddha, yang terfokus pada Empat Kebenaran Mulia (Cattāri Ariyasaccāni yaitu : Dukkha, Samudaya, Nirodha, dan Magga) dan Jalan Mulia Berunsur Delapan ( Pengertian Benar (sammā-ditthi), Pikiran Benar (sammā-sankappa), Ucapan Benar (sammā-vācā), Perbuatan Benar (sammā-kammanta), Mata Pencaharian Benar (sammā-ajiva), Daya-upaya Benar (sammā-vāyāma), Perhatian Benar (sammā-sati), Konsentrasi Benar (sammā-samādhi) ),  berkembang dan terbagi menjadi aliran Theravada dan Mahayana. Buddhism menyebar dari India ke seluruh Asia dan akhirnya mencapai penyebaran global. Meskipun mengalami periode dukungan dari kekaisaran dan pemberontakan, agama Buddha terus memainkan peran penting dalam spiritualitas dan kehidupan masyarakat di berbagai bagian dunia.


            Agama Buddha bertujuan untuk mengatasi penderitaan manusia dan mencapai keadaan pencerahan atau Nibbāna. Ini dicapai melalui pemahaman Empat Kebenaran Mulia, praktik Delapan Jalan, dan pencapaian kesejahteraan semua makhluk. Buddha mengajarkan jalan menuju pembebasan dari siklus kelahiran ulang dan penderitaan, dengan fokus pada kasih sayang, etika, dan pencarian kebenaran.

        Dari begitu banyaknya tokoh penting dalam ajaran agama Buddha, terdapat satu yang sangat penting yaitu Siddhartha Gautama atau Buddha. Beliau merupakan tokoh yang membuat agama Buddha dikenal oleh banyak orang. Setelah mencapai pencerahan, Buddha mulai mengajar. Ajarannya menarik pengikut dari berbagai lapisan masyarakat. Selama empat puluh lima tahun, Buddha mengembara di sekitar wilayah India, mengajarkan tentang penderitaan, jalan menuju pembebasan, dan praktik etika yang benar.

            Siddharta Gautama (Buddha) dikenal karena kebijaksanaannya yang mendalam dan ajaran-ajaran yang menyentuh aspek-aspek esensial kehidupan. Pelajaran sang Buddha seperti Empat Kebenaran Mulai,  Jalan Mulia Berunsur Delapan, Keseimbangan, Belas Kasihan (Karuna), Pembebasan dari Siklus Kelahiran Ulang (Samsara) memberikan dasar bagi praktik spiritual dan etika yang luas dalam tradisi Buddhisme.

            Namun, apa arti sebenarnya dari kebijaksanaaan atau wisdom? Kebijaksanaan adalah kemampuan untuk memahami dan menerapkan pengetahuan, pengalaman, serta pertimbangan moral dengan bijak dalam menghadapi situasi atau mengambil keputusan. Untuk menjadi orang yang bijaksanaan tak akan mudah, tapi bisa dimulai dengan hal-hal kecil. Sejak dini, orang-orang sewajar sudah mulai mengetahui untuk mengendalikan diri, bisa refleksi diri, dapat menerima ketidakpastian, dan bisa empati dan terbuka (open-minded) terhadap sudut pandang lain. Adapun yang bisa kita lakukan secara Buddhism; mengembangkan Karuna dan Metta, mengembangkan kesadaran (mindfulness), dan meditasi Vipassana.

            Dalam Buddhisme, kebijaksanaan (wisdom) dan ajaran Buddha saling terkait erat. Kebijaksanaan (Paññamelibatkan pemahaman mendalam terhadap Empat Kebenaran Mulia dan Jalan Tengah (Majjhima Patipada). Pemahaman ini berkembang dari pengakuan akan kebijaksanaan Buddha, penerapan ajaran (Dhamma), dan kehidupan Sangha. Memahami Konsep Tiga Corak Umum (Tilakkhaṇa yaitu : Anicca, Dukkha, Anatta) juga mencerminkan aspek kebijaksanaan, yang menjadi landasan untuk mencapai pencerahan dan pembebasan dari siklus kelahiran dan kematian.

Comments

Popular posts from this blog

an option; letting go.

• message •

young idols debuting??